MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA

header ads
Sesungguhnya pada langit dan bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasan-Nya bagi orang-orang yang beriman. (QS Al - Jaatsiyah: 3)

Tujuan Pembelajaran Menggunakan Metode Scientific Approach

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Menurut majalah Forum Kebijakan Ilmiah yang terbit di Amerika 
pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa.

Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut, antara lain: 
  1. meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi
  2. untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik
  3. terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan
  4. diperolehnya hasil belajar yang tinggi
  5. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah
  6. untuk mengembangkan karakter siswa.
Menurut Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum lampiran IV dinyatakan bahwa metode pembelajaran yang direkomendasikan untuk diterapkan adalah metode yang termasuk dalam pendekatan saintifik yang diperkaya dengan pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis projek. 

Pendekatan Saintifik dengan atau tanpa diperkaya dengan salah satu atau lebih di antara pendekatan-pendekatan pembelajaran berikut: Pembelajaran Berbasis Projek, Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Kooperatif, dan Pendekatan Komunikatif. Semua metode yang digunakan dalam pendekatan saintifik termasuk ke dalam Student Center Learning (pembelajaran berpusat pada siswa). 

Pembelajaran berpusat pada siswa atau
Student Centered Learning (SCL). Pendekatan SCL menuntut partisipasi yang tinggi dari peserta didik, karena peserta didik menjadi pusat perhatian selama kegiatan belajar berlangsung. Pembelajaran SCL menuntut peran guru yang bersifat kaku instruksi menjadi memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyesuaikan dengan kemampuannya dan berperilaku secara langsung dalam menerima pengalaman belajarnya. Landasan teori SCL adalah teori konstruksivistik yang berasal dari teori belajar menurut Piaget, Jhon Dewei, dan Burner (1961) yang menekankan proses pembelajaran pada perubahan tingkah laku peserta didik itu sendiri dan mengalami langsung bagaimana membentuk konsep belajar dan memahami. 

SCL adalah merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang mempunyai karakteristik: 
  1. Peserta didik belajar secara individu maupun kelompok untuk membangun pengetahuan dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi dan teknologi yang dibutuhkan secara aktif tidak hanya asal menerima pengetahuan secara pasif. 
  2. Pendidik atau guru membantu peserta didik mengakses informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
  3. Peserta didik tidak hanya kompeten dalam bidang ilmu yang diterimanya tetapi juga kompeten dalam belajar. Dengan kata lain peserta didik tidak hanya menguasai mata pelajaran tetapi mereka juga mampu untuk belajar bagaimana belajar (how to learn)
  4. Belajar di maknai sebagai belajar sepanjang hayat, suatu ketrampilan dalam dunia kerja, dan 
  5. Belajar termasuk di dalamnya adalah memanfaatkan teknologi yang tersedia, baik berfungsi sebagai sumber informasi pembelajaran maupaun sebagai alat memberdayakan peserta didik dalam mencapai ketrampilan yang utuh secara intelektual, emosional dan psikomotorik yang dibutuhkan.

Sumber: Buku SINTAKS 45 Model Pembelajaran dalam Student Centered Learning (SCL)

Posting Komentar

0 Komentar