HAWKING, ALAM DAN TUHAN

Rabu, 21 Maret 20180 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Oleh Agus Purwanto*
(Dosen Fisika Teori FMIPA ITS Surabaya, penggagas-pengasuh pesantren sains Trensains Sragen-Jombang)

STEPHEN Hawking adalah ilmuwan, tepatnya fisikawan teoretis. Sebagai ilmuwan, Hawking itu unik dan fenomenal. Unik karena prestasinya yang luar biasa dan telah dianugerahi 19 penghargaan bergengsi sejak yang pertama Adams Award 1966 sampai yang terbaru BBVA Foundation Frontier of Knowledge Awards 2015. Sayang, sampai wafatnya, Hawking tidak mendapat Nobel.

Bandingkan dengan fisikawan Jepang Toshihide Maskawa yang karyanya tidak sebanyak dan sedahsyat karya-karya Hawking. Bahkan, Maskawa hanya punya satu artikel tentang simpangan CP (sekawan muatan dan paritas, charge conjugation-parity) yang terbit di jurnal Jepang pada 1973. Tetapi, teori simpangan CP Maskawa bersama Makoto Kobayashi telah menghidupkan kembali model standar yang telah mati. Model standar adalah model dan kerangka utama dalam menjelaskan berbagai fenomena fisika partikel saat ini. Maskawa, bersama sejawatnya, Kobayashi dan Yoichiro Nambu, mendapat hadiah Nobel Fisika 2008. Nobel diberikan kepada ilmuwan yang teorinya punya implikasi luas. Sementara itu, teori Hawking bersifat spekulatif dan belum terkonfirmasi.

Fenomenal karena Hawking sakit yang membuatnya lumpuh, bekerja di wilayah yang keras perbatasan, dan sering membuat pernyataan keras serta menulis buku populer. Di usia 21 tahun, Hawking diidentifikasi terserang penyakit sklerosis lateral amiotrofik (amyotrophic lateral sclerosis/ALS alias sang pemburu saraf otak) dan diprediksi hanya bisa bertahan hidup dua tahun. Nyatanya, meski lumpuh, Hawking dapat bertahan hidup puluhan tahun, bahkan dengan karya-karya fenomenal.

Hawking juga mau menulis gagasan-gagasannya dalam bahasa populer. Dua buku populernya yang terkenal dan sempat membuat heboh adalah The Brief History of Time 1998 dan Grand Design 2010. Heboh karena di dalam dua buku tersebut Hawking menyinggung kejadian alam tanpa peran Tuhan.

Relativitas umum dengan kosmologinya masuk dalam kategori hard science, sains keras, sulit, dan berat. Sains modern yang berkembang sejak awal abad ke-20 terdiri atas dua teori utama, yaitu kuantum dan relativitas. Teori kuantum dibangun oleh ba­nyak fisikawan seperti Max Planck, Albert Einstein, Arthur Compton, Louis de Broglie, Niles Bohr, dan Werner Heisenberg. Teori kuantum menjadi kerangka kerja dunia mikroskopik dan fondasi industri modern. Sebaliknya, teori relativitas umum (TRU) yang merupakan teori geometri dan kerangka teori untuk makrokosmos dibangun oleh Albert Einstein. Dari tingginya tingkat kesulitan teori ini, ilmuwan menyebutkan bahwa JIKA Einstein tidak merumuskan TRU MAKA kita tidak tahu kapan teori ini akan lahir.

Hawking termasuk sedikit orang yang bekerja di ranah makrokosmos. Kosmologi yang sangat rumit tersebut bahkan mungkin menjadi satu-satunya ketika kemudian kosmologi digabung dengan teori kuantum, gravitasi kuantum. Maka, secara formal, Hawking merupakan orang yang paling paham tentang perilaku alam semesta, sejak jagat renik sampai jagat raya.

Hawking pun menjelajah ke ruang angkasa luas dan dia dapatkan lubang hitam (black hole) di sana. Lubang hitam disebut karena setiap objek, termasuk cahaya yang jatuh padanya, tidak mungkin dapat keluar atau dipancarkan kembali sehingga yang ada hanya kegelapan.

Hawking merambah wilayah perbatasan, baik perbatasan alam semesta itu sendiri maupun perbatasan antara wilayah sains, filsafat, dan agama. Di sini Hawking membuat banyak pernyataan. Pada 2011, dalam Google’s Zeitgeist Conference, Hawking menyatakan bahwa filsafat sudah mati. Bagi dia, masalah filsafat dapat dijawab oleh sains, terutama teori-teori ilmiah baru. Sebenarnya pernyataan serupa dalam redaksi yang lebih halus telah dibuat filsuf eksistensialis Karl Jasper, sesuatu yang dapat dijelaskan oleh sains tidak relevan dibahas oleh filsafat. Hawking menegaskan bahwa filsafat bukan tidak relevan, tetapi telah mati.

Hawking juga membuat banyak pernyataan tentang relasi agama dan Tuhan. Bagi dia, surga dan neraka hanya mitos. Dia meyakini bahwa surga atau akhirat itu tidak ada.

Pada 1991, Hawking memberi kuliah di Universitas Kyoto. Saat itu Hawking menyatakan bahwa alam dapat terjadi tanpa peran Tuhan. Semua karena hukum-hukum fisika. Guru besar fisika teori ITB Prof Freddy Permana Zen yang saat itu masih mahasiswa doktoral bertanya,”Hukum-hukum fisika itu berasal dari mana?” Hawking terdiam tidak menjawab.

Pada 1998, Newsweek menampilkan judul sampul Science Finds God. Tampilan ini menandai era baru, yaitu banyak ilmuwan yang berpikir tentang agama dengan serius dan tak menganggap aktivitas ilmiah mereka bertentangan dengan kebe­ragamaan mereka. Isu tentang sains dan agama pun sudah masuk ke ruang-ruang akademik. Patut dicatat juga di sini: para aktor ”gerakan” baru ini bukanlah kaum agamawan per se, melainkan terutama adalah para ilmuwan sendiri -sebagian kecilnya dengan tambahan pendidikan formal dalam teologi. Inilah wilayah perbatasan sains-agama itu.

Fisikawan teolog Ian G. Barbour dalam When Science Meets Religion membagi empat hubungan antara sains dan agama. Yakni, konflik, dialog, independen, dan integrasi. Pernyataan-pernyataan Hawking dapat dimasukkan sebagai relasi konflik, yang belakangan kurang mendapat simpati dan orang menoleh pada dialog dan integrasi.

Rabu (14/3) Hawking pergi untuk selamanya. Ungkapan-ungkapan yang terkesan ateistik dalam tasawuf dapat dipandang sebagai fase syathahat sebelum seorang hamba bersatu dengan Sang Pencipta, wihdatul wujud atau manunggaling kawula Gusti. Keper­giannya kemungkinan besar bukan memasuki tahapan manunggaling kawula Gusti, karena Hawking tidak percaya Sang Pencipta.
Bagikan artikel ini :

Posting Komentar

 
Admin : Mr. Iksan
No Copyright © 2011. GENERASI FISIKA