MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA

header ads
Sesungguhnya pada langit dan bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasan-Nya bagi orang-orang yang beriman. (QS Al - Jaatsiyah: 3)

Jawaban Fisika "Konyol" Dari Fisikawan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Cerita berikut adalah tentang salah satu soal dalam ujian fisika di Universitas Copenhagen: “Jelaskan bagaimana menghitung tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer.”

Salah seorang mahasiswa menjawab: “Ikatkan tali panjang pada leher barometer, lalu turunkan barometer dari puncak pencakar langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi bangunan pencakar langit itu.”

Jawaban yang sebenarnya sangat orisinil ini membuat sang dosen geram sehingga sang mahasiswa langsung dinyatakan tidak lulus. Si mahasiswa tak terima, lalu naik banding, karena menurutnya jawabannya itu tidak bisa disangkal kebenarannya. Universitas menerima banding si mahasiswa dan menunjuk seorang arbiter independen untuk memutuskan perkaranya.

Arbiter menyatakan bahwa jawaban si mahasiwa benar, tetapi tidak memperlihatkan secuilpun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Diputuskan kemudian bahwa si mahasiswa akan dipanggil dan akan diberi waktu enam menit untuk menjawab soal ujian fisika tersebut secara lisan, jawaban harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip dasar ilmu fisika.

Ujian lisanpun berlangsung. Selama lima menit, si mahasiswa duduk terdiam, dahinya terlihat berkerut. Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah hampir habis. Si mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki beberapa jawaban yang sangat relevan dengan yang diminta tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang harus disampaikan sebagai jawaban. Saat diingatkan sang arbiter untuk segera menjawab, si mahasiswa menjawab sebagai berikut:

“Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar langit. Jatuhkan barometer itu dan ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus h sama dengan setengah g t kuadrat. Tetapi ya sayang barometernya.”

“Atau, bila matahari sedang bersinar, ukur tinggi barometer lalu tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu, ukur panjang bayangan pencakar langit. Hanya perlu perhitungan aritmatika perbandingan sederhana untuk menghitung tinggi pencakar langitnya.”

“Ada juga jawaban yang lebih ilmiah: Ikat seutas tali pendek pada barometer dan goyangkan seolah pendulum, lakukan itu di permukaan tanah kemudian di atas pencakar langit. Catat periode T dari pendulum di kedua tempat, lalu hitung gravitasi di kedua tempat dengan rumus T sama dengan 2 pi akar (l/g). Tinggi pencakar langit bisa dihitung dari perbedaan gravitasi dengan rumus g sama dengan GM per r kuadrat."

“Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat luar, naiklah lewat tangga lalu ukur tinggi pencakar langit itu berapa kali panjang barometer."

“Bisa juga barometer itu digunakan untuk mengukur tekanan udara di dua tempat yaitu di puncak pencakar langit dan di tanah. Tinggi pencakar langit dapat dihitung dari selisih tekanan udara di dua tempat itu lalu dibagi dengan gravitasi dan kerapatan udara."

“Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: ‘Bila anda menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini.”

Jawaban si mahasiswa membuat sang arbiter, sang dosen, dan beberapa orang yang hadir berdecak kagum.

Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, warga Denmark yang di kemudian hari memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.


Posting Komentar

0 Komentar