PENYUSUNAN SOAL HOTS

Minggu, 14 Juli 20190 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Secara umum, peserta didik kita
terbiasa disuguhi soal-soal yang biasa. Artinya, soal-soal yang hanya mengungkap kognitif tingkat rendah, yaitu Cl (ingatan/hafalan) dan C2 (pemahaman). Secara international, menurut Das Salirawati (2012), soal TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) membagi tingkat kognitif menjadi 3, yaitu pengetahuan (knowing), penerapan (applying), dan penalaran (reasoning).

Secara umum, soal yang dapat dikategorikan soal HOT adalah soal yang untuk menjawabnya peserta didik harus menggunakan logika dan penalaran; mampu menganalisis dengan mengaitkan antara satu konsep dengan konsep yang lain; mampu mengevaluasi suatu gejala dengan menggunakan berbagai konsep yang ada dalam struktur kognitifnya; serta mampu menciptakan dan menyatukan unsur-unsur untuk membentuk suatu pola baru yang dapat memecahkan suatu permasalahan, mengambil keputusan, berpikir kritis dan kreatif. Dengan kata lain, soal HOT adalah soal yang mengungkap kemampuan C4, C5, dan C6 peserta didik. Melalui soal HOT, kreativitas berpikir peserta didik dapat ditumbuhkan sebab menurut J.H. Dyers, dkk. (2011), 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan. 

Sebagian guru merasa tidak mampu atau kesulitan membuat soal HOT, padahal sebenarnya tidak sesulit dan serumit yang dibayangkan. Segala sesuatu yang belum dicoba atau belum dipahami secara komprehensif terkadang menimbulkan apriori dalam diri yang mengiyakan apa yang dirasakan.

Sesungguhnya, jika sudah memahami secara benar, mendalam, dan menye_ luruh, membuat soal HOT sangat mudah. Bahkan mungkin setelah menge tahui caranya, guru akan menganggap pekerjaan tersebut dapat dikerjakan dalam waktu singkat.

Permasalahan yang muncul di lapangan setelah guru menguasai pembuatan soal HOT adalah jawaban dari soal HOT itu sendiri. Guru terkadang relatif kurang banyak penguasaan tentang konsep-konsep yang memerlukan penjelasan melalui analisis, evaluasi, dan penciptaan sesuatu melalui olah pikir tingkat tinggi (penalaran secara rasional).

Sosialisasi pembuatan soal HOT bagi peserta didik ini bukan mengadaada, tetapi memang menuntut adanya pembelajaran yang mampu membangkitkan penalaran peserta didik. Ada semacam tuntutan bagi guru di era globalisasi untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan yang dimiliki, bukan hanya pada tataran ingatan (hafalan), pemahaman, dan penerapan; tetapi lebih tinggi dari itu, yaitu pemecahan masalah yang memerlukan penalaran tingkat tinggi. Oleh karena itu, sebagai guru yang profesional ada semacam kewajiban untuk lebih banyak belajar serta membaca ilmu pengetahuan terapan yang dapat dijelaskan secara logika dan penalaran.

Soal C1, C2, dan C3 dapat diubah menjadi tingkat kognitif yang lebih tinggi agar memenuhi syarat sebagai soal HOT, tinggal bagaimana guru mampu melakukan perubahan pola pikir sederhana menjadi kompleks. Soal yang berisi konsep teoretis dapat diubah menjadi soal HOT dengan cara menaikkan fokus pertanyaan agar tidak mengarah pada teori semata. Guru perlu mencoba mencari celah agar hal yang ditanya berangkat dari pertanyaan ”mengapa, bagaimana, jelaskan”. Bagi soal hitungan, kita mencoba menghindari untuk terjebak pada aktivitas peserta didik yang tinggal memasukkan angka-angka pada rumus yang ada, tetapi diubah bagaimana agar peserta didik mampu mencari terlebih dahulu bagian dari variabel dalam rumus yang belum diketahui. Dengan begitu, peserta didik melakukan aktivitas mengasosiasikan berbagai rumus untuk menjawab soal.

Be
==========================
Dr. Das Salirawati,  M. Si
(Dosen Pendidikan Kimia UNY)


Bagikan artikel ini :

Posting Komentar

 
Support : Mr. Iksan
Copyright © 2011. GENERASI FISIKA - All Rights Reserved
Proudly powered by: Fisikane