Materi dan Kompetensi
Materi sistem pengukuran meliputi konsep pengukuran; jenis besaran berdasarkan penyusun dan tinjauan arahnya; analisis satuan dan dimensi besaran; penyajian hasil ukur, termasuk ketidakpastian pengukuran dan representasi data, serta penerapannya dalam kerja ilmiah. Sistem pengukuran penting dipelajari karena kita memerlukan standar dan konsistensi dalam upaya memperoleh informasi atau data yang akurat dan presisi.
Informasi ini kemudian digunakan untuk penelaahan masalah hingga pengambilan keputusan. Kompetensi yang diharapkan dicapai adalah murid mampu menerapkan sistem pengukuran, menganalisis besaran yang diperlukan beserta satuannya, memilih alat ukur yang relevan, mempertimbangkan teknik pengukuran agar terhindar dari kesalahan, menyajikan hasil ukur, dan mempergunakan hasil ukur tersebut untuk keperluan ilmiah.
Kontekstualisasi Materi Esensial dengan Pembelajaran Mendalam
Banyak aktivitas dalam kehidupan sehari hari yang melibatkan pengukuran. Murid membuat garis dengan ukuran tertentu menggunakan mistar, juru masak mengukur volume beras, perawat mengukur suhu tubuh menggunakan termometer, tukang bangunan menggunakan meteran, montir menggunakan jangka sorong, dan lainnya.
Pengalaman belajar murid dapat dilakukan melalui upaya membangun kesadaran pentingnya sistem pengukuran. Misalnya melalui mengidentifikasi berbagai besaran yang diukur dalam kehidupan sehari-hari, mengkategorikan jenis-jenis besaran, satuan, dimensi, dan alat ukurnya. Kegiatan pengukurannya dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas praktis, seperti eksperimen laboratorium atau proyek lapangan, kegiatan dirancang untuk mengajarkan murid teknik pengukuran yang tepat dan informasi lain yang bisa diperoleh dari hasil pengukuran. Selain murid dapat memahami penggunaan berbagai alat ukur, seperti penggaris, stopwatch, neraca, atau termometer, kegiatan ini juga merupakan pengenalan terhadap jenis variabel (bebas, terikat dan kontrol) dan teknik analisis data dalam rangka kerja ilmiah. Kerja ilmiah ini dapat mencakup perumusan masalah, perumusan hipotesis, merancang atau memilih rancangan penelitian, melakukan eksperimen, mempertimbangkan cara penulisan hasil ukur (notasi ilmiah), awalan satuan yang sesuai, penulisan ketidakpastian, mengolah dan menganalisis dan menyajikan data dalam berbagai bentuk (seperti tabel, grafik garis, grafik batang, grafik titik sebar, atau yang lainnya), menarik kesimpulan, dan mengomunikasikan hasil penelitian hingga penelaahan sejawat.
Pengalaman belajar ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kerja ilmiah sebagai upaya melatih keterampilan bernalar kritis dalam rangka memperoleh pengetahuan baru, menguji kebenaran atau hipotesis, dan memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman yang sudah dimiliki murid kemudian digunakan untuk diaplikasikan pada pengkajian atau penyelesaian masalah terkait topik-topik yang kontekstual, seperti mengukur ketinggian air secara berkala untuk memprediksi potensi banjir, mengukur volume sampah yang dihasilkan suatu permukiman, mengukur suhu udara secara berkala untuk mengetahui dampak dari perubahan iklim, dan yang lainnya.
Pengaplikasian ini dapat juga dilakukan secara kolaboratif dengan materi lain seperti pembuatan grafik pada matematika, perubahan ekosistem pada biologi, analisis cuaca dan iklim pada geografi. Pengalaman belajar murid ini kemudian direfleksikan agar murid menyadari bagaimana proses berpikir yang dialaminya selama pembelajaran, bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh dikaitkan dengan pengalaman kesehariannya, menilai kekuatan dan kelemahan diri, lalu menyusun rencana belajar selanjutnya. Termasuk bagaimana murid memaknai bahwa ia dapat memperoleh kemampuan berpikir sense of scale melalui materi pengukuran, seperti memahami seberapa cepat laju motor 40 km/jam dengan mengkonversinya ke dalam m/s dan penyajian grafik yang sesuai dengan ukuran
datanya.
Asesmen yang dapat dilakukan adalah asesmen awal untuk memeriksa kesiapan belajar murid, mengingat bahwa dasar dari pengukuran sudah dibahas pada fase sebelumnya; asesmen yang memantau kinerja murid sepanjang proses pembelajaran, dapat melalui lembar kerja, observasi langsung, ataupun penilaian diri dan sebaya; asesmen sumatif untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran yang dapat dilakukan melalui tes tertulis, ujian praktik, maupun laporan hasil eksperimen sederhana.
