Dari Budaya ke Sains: Pengalaman Belajar Bermakna di Kawasan Garuda Wisnu Kencana Bali

0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم




Kegiatan piknik edukatif ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park (GWK) menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi para siswa. Terletak di kawasan Ungasan, Kabupaten Bali, GWK merupakan salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Indonesia. Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan panorama, tetapi juga menghadirkan nilai seni, budaya, sejarah, dan bahkan sains yang dapat dipelajari secara langsung.


Ikon utama kawasan ini adalah patung megah Patung Garuda Wisnu Kencana yang menggambarkan Dewa Wisnu menunggangi burung Garuda. Patung karya maestro seni Bali, I Nyoman Nuarta, ini berdiri setinggi kurang lebih 121 meter dan menjadi salah satu patung tertinggi di dunia. Keberadaan patung raksasa ini memberikan banyak peluang pembelajaran kontekstual, terutama dalam bidang fisika dan teknik.


Dalam kegiatan piknik ini, siswa tidak hanya menikmati keindahan kawasan, tetapi juga diajak mengamati berbagai konsep ilmiah yang diterapkan dalam pembangunan patung dan infrastruktur di GWK. Dari sisi fisika, tinggi dan struktur patung memberikan contoh nyata penerapan konsep keseimbangan, gaya berat, dan distribusi massa. Bagaimana sebuah patung setinggi itu dapat berdiri kokoh? Pertanyaan tersebut mendorong siswa untuk memahami pentingnya perhitungan gaya, titik berat, serta kekuatan material dalam konstruksi bangunan berskala besar.


Selain itu, kawasan GWK yang berada di dataran tinggi juga memungkinkan siswa mengamati konsep ketinggian dan energi potensial gravitasi. Saat siswa berjalan menaiki tangga atau berpindah dari satu area ke area lain yang memiliki perbedaan elevasi, mereka sebenarnya sedang mengalami perubahan energi mekanik. Aktivitas sederhana seperti berjalan, berlari kecil, atau menaiki anak tangga dapat dijelaskan melalui konsep usaha dan perubahan energi dalam tubuh manusia.


Dari sisi budaya, piknik ke GWK juga menanamkan apresiasi terhadap warisan seni dan kearifan lokal Bali. Pertunjukan tari tradisional dan arsitektur khas Bali yang terdapat di dalam kawasan memberikan wawasan bahwa ilmu pengetahuan dan budaya dapat berjalan beriringan. Siswa belajar bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan modern tetap dapat selaras dengan nilai tradisi dan identitas lokal.


Kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan karakter. Melalui pembelajaran di luar kelas, siswa dilatih untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, aktif bertanya, serta mampu menghubungkan teori dengan praktik nyata. Interaksi langsung dengan objek pembelajaran membuat materi yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.


Piknik ke GWK membuktikan bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas. Lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium terbuka yang kaya akan pengalaman. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman emosional dan sosial yang memperkaya proses belajar mereka.


Melalui kegiatan piknik edukatif ke Garuda Wisnu Kencana, diharapkan tumbuh semangat belajar yang lebih kuat, rasa bangga terhadap budaya bangsa, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan hadir dan bekerja dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam karya seni monumental yang mengagumkan.


Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)