Banjir dan Kerusakan di Muka Bumi: Tinjauan Al-Qur’an dan Sejarah

0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi dan berdampak luas bagi kehidupan manusia. Selain menimbulkan kerugian materi, banjir juga mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam perspektif Islam, banjir tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam, tetapi juga dapat menjadi peringatan atas kerusakan yang dilakukan manusia di muka bumi, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an.


Banjir dalam Perspektif Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini menegaskan bahwa banyak bencana dan kerusakan lingkungan bukan semata-mata kehendak alam, tetapi juga akibat dari ulah manusia sendiri, seperti perusakan hutan, pembuangan sampah sembarangan, eksploitasi alam berlebihan, dan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan.


Dalam konteks banjir, pembalakan liar, alih fungsi lahan resapan air, penyempitan sungai, serta sistem drainase yang buruk merupakan contoh nyata dari “kerusakan di muka bumi” yang berkontribusi besar terhadap terjadinya banjir. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah (pengelola) di bumi:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Artinya, manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya.


Sejarah Banjir di Masa Lalu

1. Banjir Nabi Nuh AS

Peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh AS merupakan banjir paling monumental dalam sejarah umat manusia. Banjir ini terjadi sebagai azab bagi kaum yang ingkar dan menolak ajaran tauhid. Allah menurunkan hujan lebat dan memancarkan air dari bumi hingga menenggelamkan seluruh wilayah kaum tersebut (QS. Hud: 36–44).


Peristiwa ini bukan hanya kisah sejarah, tetapi juga pelajaran bahwa kerusakan moral dan penolakan terhadap kebenaran dapat mendatangkan kehancuran besar.


2. Banjir di Peradaban Kuno

Banyak catatan peradaban kuno menyebutkan peristiwa banjir besar, seperti dalam Epos Gilgamesh (Mesopotamia), legenda banjir di Tiongkok kuno, dan kisah-kisah banjir dalam tradisi India dan Amerika Latin. Ini menunjukkan bahwa banjir besar pernah menjadi peristiwa global atau setidaknya regional besar yang membekas kuat dalam memori kolektif umat manusia.


3. Banjir di Indonesia

Indonesia sebagai negara dengan curah hujan tinggi dan banyak sungai juga memiliki sejarah panjang banjir, mulai dari banjir besar Jakarta sejak zaman kolonial Belanda, banjir Bengawan Solo, hingga banjir bandang di berbagai daerah akibat kerusakan hutan di hulu sungai.


Sebagian besar banjir modern disebabkan oleh kombinasi faktor alam (hujan ekstrem, perubahan iklim) dan faktor manusia (deforestasi, urbanisasi tidak terkendali, dan pengelolaan lingkungan yang buruk).


Banjir seharusnya menjadi bahan refleksi bersama bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan spiritual. Ketika manusia melampaui batas dalam mengeksploitasi alam, maka keseimbangan terganggu dan bencana menjadi konsekuensinya.

Islam mengajarkan prinsip mizan (keseimbangan) dan amanah (tanggung jawab). Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga ibadah dan wujud ketaatan kepada Allah SWT.


Banjir bukan sekadar peristiwa hidrologi, melainkan juga cermin hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi berasal dari perbuatan manusia sendiri. Sejarah banjir di masa lalu — dari zaman Nabi Nuh hingga era modern — menunjukkan bahwa banjir selalu hadir sebagai peringatan agar manusia kembali menjaga keseimbangan, memperbaiki perilaku, dan memperlakukan alam dengan penuh tanggung jawab.


Semoga banjir tidak hanya meninggalkan kerugian, tetapi juga menghadirkan kesadaran kolektif untuk berubah ke arah yang lebih baik. 


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)