MAX PLANCK

0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم


Max Planck (1858-1947) hidup pada masa kemelut melanda Jerman. Planck meraih doktor fisika di usia 21 tahun. Sepuluh tahun kemudian menjabat profesor penuh. Walau beliau menolak tindakan Nazi memburu & menangkapi orang Yahudi, Planck tetap setia tinggal di Jerman. Beliau profesor fisika yang ulet dan tabah. Keempat anak hasil perkawinannya yang pertama meninggal pada masa itu. Seorang putranya gugur di medan laga Perang Dunia I, dan seorang lagi ditembak oleh Nazi semasa Perang Dunia II karena terlibat persengkongkolan untuk membunuh Hitler. Dua putrinya meninggal sewaktu bersalin. Rumah Planck hancur karena bom dari pasukan sekutu.

Max Planck  dengan berat hati menciptakan rumus radiasi panas & cahaya yang tidak sesuai dengan keyakinannya, bahkan tidak sesuai dengan asumsi fisika yang dianut saat itu. Beliau merasa sekadar melakukan manipulasi matematis supaya cocok dengan fakta yang diamati. Planck tidak girang saat ia melahirkan rumus radiasi itu. Ia melakukannya karena putus asa dan terpaksa saja. Beliau tidak tahu alasan mendasar kecocokan rumusnya dengan fakta empiris. Planck tak sadar sedang melakukan revolusi fisika. Keterpaksaan itu justru menuntun Planck ke jalan yang benar: runtuhnya keyakinan lama dan munculnya asumsi mendasar yang baru.

Asumsi lama menganggap radiasi gelombang elektromagnetik (termasuk panas & cahaya tampak) berupa energi yang "menerus" ("continous"), tetapi Planck tanpa sadar berasumsi: energi radiasi itu bersifat "butiran" yang terkuantisasi ("quanta"). Butiran energi untuk tiap frekuensi tertentu itu tak bisa dibagi lagi. Sebagaimana tidak ada seperempat atau sepertiga butir kelereng atau telur, demikian pula dengan butiran energi panas & cahaya. Lebih lanjut, Albert Einstein (1879-1955) melalui percobaan & penjelasan "efek fotoelektrik"-nya ternyata sejalan dengan Planck. Einstein menunjukkan bahwa cahaya memiki sifat sebagai "butiran" atau partikel selain bersifat sebagai gelombang menerus. Butiran cahaya itu disebut "foton".

Akhirnya, Max Planck (1918) & Albert Einstein (1921) memperoleh hadiah Nobel fisika. Planck untuk butiran energi (kuanta), dan Albert Einstein untuk efek fotoelektrik (Ya, Einstein menerima Nobel fisika bukan karena teori Relativitasnya). Maka dari mereka berdua fisika kuantum memulai perjalanannya.

Kepustakaan:
Gerry van Klinken, Revolusi Fisika: dari alam gaib ke alam nyata (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004).
Jim Al-Khalili, Quantum: a guide for the perplexed (Weidenfeld & Nicolson, 2004).
Hugh D. Young & Roger A. Freedman, University Physics 10th ed. (Addison-Wesley Longman Inc., 2000).

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)