Fisika sering dibayangkan penuh rumus dan angka. Tapi di Desa Wisata Penglipuran, Bali, fisika justru terasa hidup—mengalir di antara batu, bambu, udara sejuk, dan tatanan ruang yang rapi. Jalan-jalan ke Penglipuran bukan sekadar wisata budaya, tetapi juga perjalanan ilmiah yang menyenangkan.
Begitu memasuki kawasan desa, kita langsung disambut jalan utama yang lurus dan agak menanjak. Secara fisika, kondisi ini berkaitan dengan energi potensial gravitasi. Semakin tinggi posisi suatu benda, semakin besar energi potensialnya. Tak heran, berjalan ke arah atas terasa sedikit lebih menguras tenaga—energi kimia dalam tubuh kita berubah menjadi energi mekanik.
Rumah-rumah di Penglipuran tersusun simetris di kiri dan kanan jalan. Tata ruang ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mencerminkan konsep keseimbangan dan simetri, prinsip penting dalam fisika. Simetri membuat sistem lebih stabil, baik dalam bangunan, struktur jembatan, hingga partikel mikroskopis.
Material utama rumah adat Penglipuran adalah bambu. Dari sudut pandang fisika, bambu memiliki elastisitas tinggi dan kuat terhadap gaya tekan maupun tarik. Sifat ini membuat bangunan lebih tahan terhadap getaran, termasuk gempa—contoh penerapan fisika material yang selaras dengan alam.
Berjalan pelan menyusuri desa, kita juga merasakan gaya gesek antara alas kaki dan permukaan jalan batu. Gaya inilah yang memungkinkan kita berjalan tanpa tergelincir. Semakin kasar permukaan jalan, semakin besar gaya gesek yang bekerja—sederhana, tapi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Penglipuran membuktikan bahwa fisika tidak selalu hadir dalam laboratorium. Ia hidup dalam budaya, arsitektur, dan cara manusia berdampingan dengan alam. Jalan-jalan ke desa ini bukan hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga membuka mata bahwa fisika ada di setiap langkah yang kita ayunkan.
Fisika ternyata bisa diajak jalan-jalan. Dan Penglipuran adalah kelas terbuka terbaiknya
