Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Bapak Optik Modern

0
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم


sumber: jogja.tribunnews.com


Saat ini begitu banyak ragam smartphone dengan lensa kameranya yang semakin canggih. Ternyata jauh sebelum itu, Ibnu Al Haytham telah menemukan yang menjadi sangat berpengaruh dalam perkembangan sains modern.

Adalah Abu Ali al-Hasan bin al-Hasan bin al-Haytham atau Ibnu al-Haytham, di barat lebih dikenal dengan nama Alhazen. Beliau dilahirkan di Basra, Irak, pada 1 Juli 965 Masehi dan meninggal di Kairo, Mesir, pada 6 Maret 1040. Merupakan seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat.

Karya yang terkenal adalah 
Melalui Buku Optiknya (Kitab al-Manazir) dan terjemahan Latinnya (De Aspectibus), gagasannya mempengaruhi para sarjana Eropa dan Pada abad ke-17. Eropa memecahkan masalah yang dibingkai oleh Al Hasan Ibn Al Haytham yang dikenal sebagai masalah Al-Hazan Saat ini, banyak yang menganggapnya sebagai tokoh penting dalam sejarah optik dan "Bapak Optik modern" karena penemuannya dalam optik dan visi membalikkan kesalahpahaman selama berabad-abad.

Ibnu Haitsam merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Ia merupakan orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antara lain Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Ibnu Haitsam, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, dia juga telah berhasil menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Ibnu Haitsam juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar, dan dari situ ditemukanlah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para ilmuwan di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.

Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitsam telah menemui prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella yang mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitsam juga telah menemukan kewujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Hai­tsam mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori dia telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.


 
Sumber: https://kumpulanpenemudunia.blogspot.com, https://madiun.inews.id/

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)