TABRAKAN BERUNTUN, KOK BISA?

Rabu, 04 September 20192komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Oleh : Prof.  Mikrajuddin Abdulah

Mengapa terjadi tabrakan beruntun di jalan tol atau jalan pada umumnya? Karena jarak antar kendaraan terlalu dekat. Saat kendaraan di depan tidak ada masalah, mengatur jarak hingga 1 meter pun akan aman. Tetapi apa yang terjadi jika kendaraan di depan mengalami masalah secara tiba-tiba? Cukupkah ruang 1 meter untuk menghindari tabrakan? Tentu tidak. Sebenarnya hanya orang bodoh lah yang memacu kendaran dengan kecepatan tinggi dan membuat jarak beberapa meter dengan kendaraan di depannya. Dan ini biasanya dilakukan oleh sopir-sopir yang tidak bersekolah.

Sopir yang punya ilmu akan mempertimbangkan dengan seksama jarak aman. Sopir yang berilmu tersebut menggunakan otaknya untuk berpikir, andaikan tiba-tiba mobil di depan mengalami masalah seperti berhenti tiba-tiba karena terguling atau karena menabrak mobil di depannya, apakah saya punya ruang yang cukup untuk merem kendaraan untuk menghindari tabrakan?

Berapa sih jarak aman tersebut? Jarak aman tergantung pada gaya yang dihasilkan rem kendaraan. Saya coba cari informasi gaya pengeraman dan diperoleh grafik di bawah. 

Mungkin data ini tidak terlalu akurat. Tetapi anggaplah tidak terlalu jauh dari yang sebenarnya. Gaya pengereman kendaraan sekitar 13.500 N. Mobil seperti Avanza memiliki massa sekitar 1,05 ton. Jika berisi satu penumpang kita bulatkan massanya 1.100 kg. Jika dilakukan pengeraman maka perlambatan yang dihasilkan sekitar 12,7 m/s2.

Namun secara psikologis, rata-rata manusia memiliki efek kesadaran atas peristiwa sekitar 1 detik. Sejak melihat peristiwa sampai melakukan respons diperlukan waktu sekitar 1 detik. Jadi, sejak sopir melihat peristiwa di depannya hingga menginjak rem dibutuhkan waktu sekitar 1 detik. Dalam selang waktu tersebut mobil sudah bergerak maju cukup jauh akibat kecepatan yang tinggi. Setelah itu mobil mengalami pengereman. Dengan asumsi perlambatan konstan maka gerak maju selama pengereman dapat dihitung dengan persamaan GLBB (istilah anak SMA). Akhirnya, kita dapat memperkirakan gerak maju kendaraan sejak melihat peristiwa sampai kendaraan kita berhenti.

Jika kecepatan kendaraan 100 km/jam, maka jarak minimum yang aman sekitar 59 meter. Cukup jauh bukan? Tetapi ketika kita melintasi jalan tol, betapa banyak kendaraan yang berjarak hanya beberapa meter walaupun kecepatannya di atas 100 km/jam. Ini benar-benar sopir yang bodoh dan untung selamat. Jika anda merasa orang yang berpendidikan, tentu anda tidak mengikuti cara sopir bodoh tersebut.
Bagikan artikel ini :

+ komentar + 2 komentar

Anonim
6 September 2019 17.15

Greetings from Los angeles! I'm bored at work so I decided to check out your blog on my iphone during
lunch break. I enjoy the info you provide
here and can't wait to take a look when I get home. I'm shocked at how fast your blog loaded on my
phone .. I'm not even using WIFI, just 3G .. Anyways, good site!

28 Juli 2020 16.44

thank you very much

Posting Komentar

 
Admin : Mr. Iksan
No Copyright © 2011. GENERASI FISIKA