APPERSEPSI BAB PENGUKURAN

Senin, 23 Juli 20180 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

*PENGUKURAN SEMESTA*

*_Oleh : Arif Alfatah As Srageny_*


_“Bila kita dapat mengukur apa yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan”_ , itulah ungkapan dalam kaitannya mengungkap alam semesta dari seorang ilmuwan Fisikawan terkenal bernama *Kelvin*.

Sejarah sains (khususnya Fisika) tidak akan terlepas dengan metode ilmiah yang mengharuskan pengukuran untuk bisa mengungkap dan menafsirkan gejala alamiah di alam semesta. Sekitar abad ke 3 SM, *Aristoteles* menjelaskan fenomena-fenomena alam secara filsafat teoritis dalam ‘bukunya’ _the organon_, piranti matematika dikembangkan *Phytagoras* dan *Euclides* melahirkan metode ilmiah deduktif (silogisme deduktif) dan bertahan cukup lama.


*Peran Peradaban Islam dalam Sains*

Setelah senyap sekitar 10 abad, adalah *Jabir  bin Hayyam* berusaha kembali menghidupkan metode ilmiah dengan cara yang baru. Tepatnya abad ke 7 M, metode ilmiah yang dikembangkan Jabir adalah berbasis metode eksperimen induktif bukan metode silogisme deduktifnya Aristoteles. Tercatat dalam sejarah, Jabir bin Hayyam kepada muridnya selalu berpesan agar memperhatikan penggunaan eksperimen dan tidak mendasarkan kesimpulan kecuali kepadanya yang disertai dengan ketelitian, pengamatan cermat, berhati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.

Ilmuwan islam yang lain juga menekankan akan sangat pentingnya eksperimen dalam mengungkap semesta. Dialah *Al Hasan bin Al Haitam (Al Haitamy)*, pernah mengatakan bahwa: _semua fenomena alam ini tunduk pada hukum dan aturan-aturan yang tetap, yang memungkinkan orang melakukan eksperimen dan mengungkap rahasianya_.

Peradaban islam telah melahirkan metode ilmiah yang sangat penting bagi perkembangan teknologi yaitu metode eksperimen induktif, dengan metode tersebut, perkembangan sains masa peradaban islam mencapai kegemilangannya dan memberi sumbangan yang sangat berarti bagi dunia ilmu pengetahuan teknologi selanjutnya.

Setelah sekitar 7 abad, tepatnya abad ke 16 M  perkembangan sains yang dikembangkan orang islam mulai menjalar ke Eropa dan berangsur mengentaskan mereka dari jaman kegelapan. Metode eksperimen induktif mulai dipelajari oleh *Francis Bacon* hingga mengispirasinya untuk menulis buku berjudul _The New Organon_ , kemudian diikuti oleh *Johannes Kepler*, *Galileo*, *Newton*, dan para ilmuwan lainnya. Dikalangan komunitas ilmiah sains barat dan juga negara Indonesia, tokoh pelopor metode eksperimen induktif disematkan kepada Francis Bacon, padahal metode tersebut sudah dikembangkan oleh Jabir bin Hayyam dan ilmuwan islam lainnya jauh sekitar 7 abad sebelum Bacon lahir.

Selanjutnya perkembangan sains melahirkan metode ilmiah gabungan, yaitu memadukan metode deduktif (filsafati) dan metode eksperimen induktif. Metode gabungan tersebut memberi peran yang sangat penting bagi perkembangan metode ilmiah selanjutnya. Sains semakin berkembang pesat dari sebelumnya setelah Newton menemukan rumusan matematik kalkulus dan semakin melengkapi kemajuan sains, menjadikan Eropa bangkit dengan revolusi industri kemudian membawa semangat kolonialismenya tampil sebagai penguasa dunia (penjajah). Metode ilmiah filsafati dan eksperimen selanjutnya terus memainkan peran penting bersinergi mengawal perkembangan sains hingga sekarang. 

Mengenai peran peradaban islam dalam perkembangan sains, kita nukilkan ungkapan *George Sarton* dalam _The History of Science_ : _“Umat Islam merupakan bangsa yang jenius di wilayah Timur pada abad pertengahan dan memberikan kontribusi terbesar bagi umat manusia”_ . 


*Ayat-ayat Semesta tentang Pengukuran*

Ungkapan Al Haytami di atas, sangat besar kemungkinannya terinspirasi oleh makna ayat-ayat semesta yang ada dalam Alqur’an, seperti misal firman *Alloh _Subhanahu Wa Ta’ala_* di bawah;

_"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran"._ *(QS. Al Qomar; 49)*

Ayat di atas menyatakan dengan jelas bahwa alam semesta diciptakan sesuai dengan ukurannya masing-masing. Dilengkapi dengan ayat lain, tidak hanya sesuai ukuran masing-masing, tetapi juga mengisyaratkan akan ketelitian yang sangat pada ukuran tersebut. Sebagaimana firman-Nya;

_"....., Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya"._ *(QS. Al Furqoon; 2)*

*Ibnu Katsir _Rohimahulloh_* menafsirkan, yakni segala sesuatu selain Dia adalah makhluk lagi dimiliki, sedangkan Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya, diatur oleh-Nya, tunduk kepada takdir-Nya. Lebih gamblang lagi ditunjukkan pada ayat di bawah;

_"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk."._ *(QS. Al A’laa; 1-3)*

Artinya, tidak hanya memiliki ukuran dan isyarat ketelitian, tetapi juga menyimpan hukum-hukum yang tetap (sunatulloh) sehingga menginspirasi bagi para ilmuwan untuk bersemangat mengungkap rahasia ukuran, ketelitian, dan hukum-hukum yang ditetapkan untuk alam semesta dengan instrumen pengukuran yang sesuai.

Pengukuran objek semesta terbentang mulai dari ukuran terkecil seperti partikel-partikel dasar (misal; elektron, proton, positron, neutrino, meson, muon, kaon, pion, gluon, fermion, boson, dll) hingga yang terbesar (misal; bintang, tatasurya, galaksi, seluruh semesta). Dengan diketahuinya ukuran-ukuran benda atau sistem di alam semesta, mampu mengilhami umat manusia melahirkan teknologi yang tak terduga sebelumnya serta semakin menambah keimanan kita akan keindahan, keunikan, dan kesempurnaan ciptaan-Nya. 


=============================

Dari Tepian Lembah Ngosit
Barat Laut Yogyakarta

Jum’at Legi
7 Dzulqo’dah 1439 H – 20 Julil 2018 M



Ket;

_Silogisme_ adalah bentuk, cara berpikir atau menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan (misal: semua manusia akan mati, si A manusia, jadi si A akan mati).

_Deduktif_ adalah metode penelitian yang dimulai dari hal-hal yg bersifat umum, kemudian ditarik kesimpulan pada yang khusus.

_Induktif_ adalah metode penelitian yg digunakan untuk menarik kesimpulan dari hal-hal yg khusus untuk menuju kesimpulan yg bersifat umum.tapi
Bagikan artikel ini :

Posting Komentar

 
Support : Mr. Iksan
Copyright © 2011. GENERASI FISIKA - All Rights Reserved
Proudly powered by: Fisikane